KLIKFAKTA38 – Kyiv — Kota kembali berguncang. Dalam salah satu serangan udara paling brutal selama tiga tahun perang, Rusia menghantam Kyiv dengan puluhan rudal balistik dan drone semalam, (24/5). Ledakan merobek gedung-gedung apartemen, melukai sedikitnya 15 orang, termasuk dua anak.
Gelombang drone terdengar melintas di atas langit Kyiv menjelang subuh. Suara ledakan dan tembakan sistem antipesawat menggetarkan jantung kota. Api dan asap membumbung dari jendela apartemen yang terbakar. Petugas pemadam kebakaran berjuang menerobos kobaran demi menyelamatkan warga.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyebut malam itu sebagai “malam yang sulit”. Ia menuntut respons tegas dunia internasional. “Sanksi tambahan terhadap ekonomi Rusia adalah satu-satunya cara untuk menghentikan agresi ini,” tegasnya melalui Telegram.
Serangan Terkoordinasi
Angkatan Udara Ukraina melaporkan 14 rudal balistik dan lebih dari 250 drone long-range diluncurkan Rusia. Target utama: ibu kota Kyiv.
Militer setempat menyebut ini sebagai salah satu serangan gabungan rudal dan drone terbesar sejak invasi 2022. Ledakan dilaporkan di enam distrik. Tiga korban dilarikan ke rumah sakit.
Halyna Tatarchuk (63), warga yang selamat, bercerita: “Drone itu menghantam gedung kami. Kami selamat karena bersembunyi di koridor.” Ia menunjukkan apartemen yang porak-poranda. “Saya ingin Trump melihat ini. Mereka menghancurkan kami.”
Ketegangan di Tengah Diplomasi Palsu
Ironisnya, beberapa jam sebelum serangan, Rusia dan Ukraina menukar ratusan tahanan langkah yang sempat dianggap sinyal awal negosiasi damai. Namun, belum sempat memo perdamaian dikirim, rudal lebih dulu melesat ke arah warga sipil.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menegaskan: “Alih-alih nota perdamaian, Rusia kirim rudal mematikan.” Pernyataan ini memperkuat posisi Ukraina yang menilai Moskow belum punya niat damai sejati.
Trump Dorong Damai, Tapi Tolak Sanksi Baru

Presiden AS Donald Trump mendorong kedua negara duduk bersama untuk gencatan senjata. Namun, ia menolak dukungan Eropa untuk menjatuhkan sanksi tambahan terhadap Rusia.
Sementara itu, warga Kyiv hanya bisa mengais reruntuhan, menambal luka, dan menanti dunia bertindak.













