Riau Minta Keistimewaan: LAMR dan Laskar Bersatu, Ini Seruan Tegas Panglima FPBLK!

“Perjuangan keistimewaan Riau bukan sekadar janji, tapi hak yang harus diperjuangkan dengan niat lurus dan dukungan semua elemen.”

Klikfakta38 – Pekanbaru – Lembaga Adat Melayu Riau (LAM Riau) menggelar konsolidasi besar bersama Badan Pekerja Perwujudan Daerah Istimewa Riau (BPP-DIR) dan sejumlah organisasi Laskar Melayu di bumi Lancang Kuning, Rabu, (28 Mei 2025). Pertemuan ini menjadi tonggak penting bagi pemantapan arah juang kolektif menuju pengakuan keistimewaan bagi Provinsi Riau dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dihadiri oleh pucuk pimpinan laskar, utusan organisasi kemelayuan, dan perwakilan masyarakat adat, konsolidasi tersebut tidak hanya menyatukan visi, tapi juga memperkuat koordinasi antara lembaga adat, akar rumput, dan kekuatan politik formal yang kini turut mendukung perjuangan DIR.

banner 325x300

“Keistimewaan ini bukan milik elit, bukan pula kemewahan. Ini hak anak negeri. Hak yang sudah waktunya diperjuangkan secara sah, bermartabat, dan berlandaskan sejarah panjang kontribusi Riau terhadap republik,” ujar Datuk Muhammad Khalid, Panglima Utama DPP Front Pembela Bumi Lancang Kuning (FPBLK), yang juga merupakan salah satu konsolidator BPP-DIR di bidang hubungan antar lembaga.

Menurutnya, langkah konkret pertama pasca pertemuan laskar ini adalah memperluas konsolidasi ke masyarakat adat dan struktur komunitas akar rumput. Sambil menunggu rampungnya Naskah Akademik DIR yang tengah digodok oleh para pakar, budayawan, dan akademisi Melayu yang terpercaya, para laskar akan menjadi pengawal moral perjuangan.

“Para laskar atas nama anak kemenakan akan mengawal penuh setiap derap langkah perjuangan ini di bawah komando BPP-DIR,” tegasnya.

Strategi komunikasi juga telah dipersiapkan dengan matang agar masyarakat memahami bahwa perjuangan ini bukan narasi sepihak, apalagi gerakan provokatif. Datuk Muhammad Khalid menegaskan pentingnya kehadiran laskar di tiap kabupaten/kota untuk menjadi penghubung antara pusat gerakan dan masyarakat luas.

“Setakat ini, melalui jejaring LAMR kabupaten/kota, himpunan para raja dan sultan, hingga Datuk-datuk pemangku adat, komunikasi telah berjalan baik. Sokongan Gubernur Riau, pimpinan DPRD provinsi, hingga anggota DPR-RI dari Riau, menjadi penopang penting bagi langkah-langkah ke depan,” ungkapnya.

Di akhir wawancara, satu pesan moral disampaikan dengan nada yang tegas namun teduh: menjaga ruh perjuangan agar tidak berubah haluan.

“Luruskan niat. Lillahi Ta’ala. Itu harus terhujam dalam sanubari para pejuang DIR. Jika kelak terwujud dan ada potensi kesejahteraan, kelola dengan baik, akuntabel, dan transparan. Harus bermuara pada kemaslahatan ummat dan masyarakat Riau,” tutupnya.

Gerakan ini kini tidak lagi berdiri sendiri. Ia menjelma menjadi arus besar kesadaran kolektif – bahwa Riau, dengan marwahnya, layak mendapat pengakuan istimewa dalam bingkai republik yang besar dan majemuk.