Datuk Panglima Besar Gunung Sahilan Nyatakan Dukungan untuk Daerah Istimewa Riau

DIR adalah jalan marwah, amanah adat, dan bentuk ibadah kepada Allah

KlikFakta38 – Gunung Sahilan, Kampar Kiri.

Dalam suasana adat yang sarat makna dan spiritualitas, Datuk Panglima Besar Kerajaan Adat Gunung Sahilan, Taharuddin Pahang, menyatakan dukungan resmi terhadap gerakan rakyat dan tokoh-tokoh Riau untuk menjadikan provinsi ini sebagai Daerah Istimewa Riau (DIR).

banner 325x300

Dukungan ini tidak berdiri atas kepentingan sesaat atau semata-mata dorongan politik, namun berdasar pada tiga tiang utama kehidupan orang Melayu: adat, marwah, dan ibadat. Sebagai Dewan Penasehat Organisasi Masyarakat Adat Laskar Dubalang Panglima Rantau Kampar Kiri Gunung Sahilan, Datuk Panglima Besar Taharuddin Pahang menegaskan bahwa perjuangan ini harus dilandasi dengan kesadaran historis dan pertanggungjawaban spiritual.

“Kami di Kampar Kiri tidak melihat DIR sebagai tujuan kekuasaan, tetapi sebagai jalan untuk mengembalikan marwah, menjaga warisan, dan menunaikan tanggung jawab kepada Allah SWT atas tanah, sejarah, dan jati diri Melayu yang telah kami warisi,” tegas Panglima.

Adat Bukan Warisan Mati, Tapi Amanah Hidup

Panglima menambahkan, bahwa Gunung Sahilan sebagai salah satu kerajaan adat tertua di Riau telah lama memegang peranan penting dalam penyebaran Islam, pendidikan adat, serta penegakan hukum tradisional yang bersendi kepada syariat. Maka, menyuarakan DIR adalah bagian dari menyambung perjuangan para datuk, alim ulama, dan raja-raja terdahulu yang menanamkan nilai-nilai kedaulatan berbasis adat dan ibadah.

“Adat yang tidak berdiri di atas ibadat hanyalah simbol kosong. Tapi adat yang bersandar pada ibadah, akan melahirkan negeri yang selamat, pemimpin yang amanah, dan rakyat yang mulia. DIR adalah bentuk perlawanan kita terhadap keterputusan sejarah dan pengabaian terhadap nilai-nilai luhur itu,” ungkapnya.

Memanggil Seluruh Anak Negeri

Datuk Panglima Besar Taharuddin Pahang menyerukan agar seluruh anak kemenakan, ninik mamak, pemuka masyarakat, serta para pemimpin politik dan spiritual di Kampar Kiri, Riau bersatu dalam langkah perjuangan ini. Ia menekankan bahwa keistimewaan Riau bukan untuk memisahkan diri, tetapi untuk menyatukan identitas, menguatkan daya saing, dan mengembalikan kehormatan daerah yang telah lama berjasa namun sering diabaikan.

“Jika bukan kita yang membela marwah negeri, siapa lagi? Jika bukan sekarang, kapan lagi? Riau tidak meminta-minta, tetapi menuntut haknya secara beradab,” pungkasnya.

Marwah untuk Masa Depan

“Marwah Riau adalah cermin jiwa leluhur, sebuah janji suci yang wajib kita jaga demi keberlangsungan warisan dan keberkahan. Dengan adat sebagai pijakan dan ibadat sebagai tujuan, kita songsong masa depan yang bermartabat, bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk generasi yang akan datang. Bersama kita menjaga tanah yang dirahmati, menegakkan marwah, dan mengabdi kepada Sang Pencipta demi Riau yang sejati, bermartabat, dan abadi.”